“Tantangan kita sama dengan di PT. Masmindo Dwi Area. Dirut Masmindo datang terkait ketenagakerjaan, saya kasih solusi dari pada ribut di internal lebih baik penerimaan tenaga kerja kerjasama dengan transnaker. Kedua untuk menciptakan tenaga skil bisa dilatih lewat transnaker. Kami merasa bangga dan berterimakasih kepada keluarga besar Jusuf Kalla, putera terbaik di Indonesia, tidak mungkin beliau datang bawa noda hitam di daerah kita, mudah mudahan tahun ini dua pabrik bisa berfungsi,” lanjutnya.

Bupati pula menyampaikan, keberadaan perusahaan smlater PT. BMS di Bua juga membawa dampak bertambahnya jumlah penduduk di Kaupaten Luwu. Tahun 2022 dilaporkan, jumlah penduduk di Kecamatan Bua bertambah menjadi 3.000 jiwa. Bupati Luwu, mewarning baik Camat Bua, para desa di Kecamatan Bua utamanya perusahaan PT. BMS, dalam hal penerimaan tenaga kerja.

“Perlu kita hati hati, yang dia senter itu adalah BMS sehingga nanti kita atur penerimaan tenaga kerja betul betul warga lokal, jangan sampai hanya ber KTP Bua atau KTP Luwu. Harus utamakan warga kecamatan Bua atau KabupatenLuwu, baru keluar, kecuali tenaga skil, tapi tenaga administrasi lainnya saya rekannya warga lokal. Ini juga saya tekankan ke PT Masmindo, dan saya ingatkan jangan ada calo tenaga kerja. Mudah mudahan tetap terjadi kerjasama yang baik sehingga sukses BMS, masyarakat Luwu Sejahtera,” tegas Basmin Mattayang.

Direktur Utama PT. BMS, H Suhaeli Kalla didampingi Direktur, Afifuddin Suhaeli Kalla dan Site Manager PT. BMS Zulkarnaen, mengatakan pihaknya menyadari banyak masalah dan persoalan dalam setiap dunia usaha dan tentu mereka hadapi dengan kesabaran sehainga semua bisa terselesaikan.

“Kita pilih Bua, salah satu faktor dekat dengan Kolaka dan dekat dengan Toraja sebagai sumber listrik kita. Masih ada kapasitas 235 Mega Watt, itu kita bangun untuk membantu di sini karena kami sadar listrik di sini susah. Mudah mudahan unit 1 diharapkan april bisa kita uji coba dan unit 2 Desember atau awal tahun 2024 bisa kita uji coba. Kami butuhkan tenaga kerja sangat banyak, ini saja kedepan sekitar 2.000 orang. Kami sudah tekankan, utamakan orang sini, Bua dan Luwu, TKA paling banyak 20, TKA kami sangat batasi,” ujarnya.

“Saya tekankan harus utamakan tenaga kerja lokal dan asli Luwu, tidak hanya melihat KTP, jangan gunakan tenaga kerja asing untuk pekerjaan yang bisa dilakukan tenaga kerja lokal, kami berjanji kecuali yang punya skil, namun kami akan latih warga lokal agar bisa pula kita pekerjakan di pekerjaan skil,” tegasnya.

Site Manager PT. BMS Zulkarnaen, melaporkan, smalter yang dibangun oleh BMS proyek tahap satu meliputi 2 smalter yakni, smalter veronikel untuk pabrik 1 dan juga smalter nikel sulfat untuk pabrik 2, ditambah fasilktas untuk elektrik city dengan 3 kali 75 mega watt.

“Untuk progres sendiri, sekarang total kita sudah di hampir 50 persen untuk 2 smalter sementara di veronikel sendiri itu sekira 80 persen, Insya Allah sudah bisa jalan di tahun ini untuk pabrik 1. Kita berharap besar dukungan pemerintah daerah semua OPD terkait, kita saling sharing informasi. Smalter yang kami kerjakan di sini 100 persen saham dari Kalla sendiri, jadi tidak ada sama sekali dari asing,” sebutnya.

Untuk Nikel Sulfta, di awal pebruari Zulkarnaen melaporkan sudah mulai garap, bangunannya sekarang sementara clearing area dengan luas lebih 1,5b dari besar dari veronikel. “Fasilitas elektrik city kita punya turbin BMS. PT BMS bukan hanya di Luwu juga ada di Toraja. Smalternya BMS ada di Kabupaten Luwu pembangkitnya dari Toraja kita gunakan Sungai Saddang sebagai sumber listrik,” jelasnya.

Faslitas lainnya, area Jety untuk suporting role material dari Sultra nantinya. Site Manager BMS menjelaskan, PT BMS tidak menambang, yang dikerjakan hanya pengolahan merubah bentuk wujud dari tanah menjadi biji-biji nikel.

“Sesuai regulasi, Jadi kita buat fly over sehingga tidak mengganggu jalan nasional. Kita tidak menganggu rutinitas jalan nasional. Untuk mengerjakan wilayah laut, asih menunggu beberapa regulasi yang belum terbit , Insya Allah awal Februari sudah bisa mulai, yang tidak ada “obat” itu Amdal, saya sempat izin Pak Bupati, Opu sampaikan dan beri saran, jangan, tunggu dulu turun (Amdal.red) baru kita jalan, karena langsung jalan sama-sama kita ditarik nanti,” rincinya.

Selanjutnya, untuk sumber air sendiri BMS ambil dari Sungai Lekkopini sepanjangan 8 kilometer dari sini melewati 4 desa, bendungannya juga dari Lekkopini. “Insya Allah, mudah mudahan dengan dukungan semua dari Bapak Bupati Luwu, dari Pemkab Luwu, kita bisa saling memberikan support. Yang minta jadi tenaga kerja di PT BMS luas biasa banyaknya, sementara pabriknya belum jadi, baru mau jadi, mudah mudahan segera mungkinlah,” kuncinya.