Falsafah Kepemimpinan di Tanah Luwu dalam I La Galigo

LUWU, Kapitanews.id — Dalam kehidupan sehari-hari manusia sebagai makhluk sosial senantiasa berinteraksi dengan manusia lain di sekitarnya. Seseorang dalam menjalani prosesi kehidupan tentu tidaklah seperti binatang. Ada tatanan dan falsafah yang mesti dipahami. Seorang manusia patutnya mampu menjadi pemimpin. Pemimpin untuk dirinya sendiri, keluarga, lingkungan, kelompok, bahkan pemimpin sebuah negeri. Agar bisa menjadi pemimpin, terlebih dahululah menjadi manusia yang sebenarnya “Tau”.

Iyyapa nariaseng Tau, narEkko na appunnai duaE passaleng. Yanaritu, nappunnai Siri’ nasibawai Pesse. (Nantilah seseorang dikatakan manusia jika memiliki dua hal. Yakni, memiliki marwah (malu) disertai kepekaan atau rasa).

1. Siri (Marwah, malu)
Bahwa seseorang yang menjadi teladan sepatutnya memiliki kehormatan dengan menjaga rasa malu.

2. Pesse (Rasa, kepekaan, empati)
Bahwa seseorang yang meneladani senantiasa mampu merasakan hal-hal di luar dari dirinya, peka terhadap sekitar.

Kedua hal dasar tersebut saling menunjang dan akan berdiri kokoh jika memiliki pagar yang kuat untuk menangkal hal-hal yang berkemungkinan negatif. Maka ia harus dipagari (dijaga) dengan empat perkara.

1. Acca (Kepandaian, kecerdasan)
Seseorang yang cerdas akan penuh pertimbangan dalam memutuskan hal terbaik dengan akal baik pula. Kecerdasan sudah barang tentu sangat berperan dalam setiap sisi kehidupan, tumpuan utama dalam berpikir untuk menentukan kebijakan-kebijakan yang semestinya atau menempatkan pada tempatnya.

2. Lempu (Kejujuran)
Kecerdasan tanpa kejujuran pun akan timpang, tidak tertutup kemungkinan kecerdasan itu disalahgunakan hingga hanya berpikir untuk menguntungkan diri sendiri yang pada akhirnya timbul penyelewengan. Kejujuran menjaga kecerdasan agar selalu berada di jalan yang lurus (kebenaran).

3. Warani (Keberanian, nyali)
Cerdas dan jujur pun haruslah ditunjang oleh keberanian. Berani untuk jujur mengatakan yang benar dan yang salah, berani dalam menegakkan kebenaran. Tanpa keberanian, tidak tertutup kemungkinan kecerdasan dan kejujuran akan dimanfaatkan oleh pihak lain. Rentan oleh mereka yang membawa kepentingan pribadi mengatasnamakan kepentingan umum sehingga rapuhlah tatanan dan sistem yang melingkupinya menyebabkan azas tujuan terlewatkan. Maka inilah yang kemudian diistilahkan sebagai “Mariawataba”.

4. Macarinna ri lalenna gettengngE (Berbelas kasih dalam keteguhan)
Memiliki rasa welas asih, kasih sayang terhadap sesama manusia. Keberanian tanpa kasih sayang berpeluang terjadi penindasan. Keteguhan hati disertai belas kasih niscaya menciptakan rasa aman dan nyaman. Sebagaimana leluhur dahulu dalam kepemimpinannya, walaupun mereka senantiasa berada dalam lingkup yang memancarkan kewibawaan penguasa, mereka senantiasa berbelas kasih dan bermurah hati kepada segenap kawulanya. Maka nilai inilah yang membiaskan rasa cinta masyarakat kepada pemimpinnya.

Dengan mewujud-kokohnya empat pagar tersebut, maka sebuah kepemimpinan akan menciptakan ketenangan, kedamaian, kemakmuran. Sebagaimana sebuah motto kepemimpinan di Tanah Luwu yang berbunyi “Massolompawo, Mangngelle’ WaE Pasang” yang dapat dimaknai sebagai “Kebijakan dari atas senantiasa dipertemukan dengan aspirasi dari bawah”. Laksana curahan air dari ketinggian yang bertemu dengan luapan air dari dataran rendah, akan menjadi genangan yang merata sebagaimana menggenangnya air pasang. Empat hal tersebut di atas kemudian di-simbol-kan sebagai “Sulapa Eppa”. Simbol Sulapa Eppa yang dapat kita temukan digunakan dalam peradatan di Tanah Luwu seperti pada Balasuji (walasuji, lawasuji).

Demikian pula halnya jika seorang pemimpin mengabaikan belas kasih pada masyarakatnya. Ia akan jauh dan terlupakan dari rakyat yang menyalahpahami kekuasaan sebagai suatu bentuk kepongahan feodalisme. Maka dengan mengabaikan hubungan baik dengan masyarakat juga adalah penghancuran terhadap asas yang diemban oleh tampuk kepemimpinan itu sendiri.

Mungkinkah nilai-nilai keluhuran seorang pemimpin yang telah mengakar pada sebuah negeri sebesar Tanah Luwu akan kembali berjaya? Hanyalah Tuhan Yang Mahatahu!

(Narasumber La Oddang To Sessungriu)