LUWU UTARA, Kapitanews.id – IKA UNHAS Luwu Utara mengajak Balai Penelitian Jeruk dan Buah Tropika (BALITJESTRO) Batu Malang Jawa Timur untuk melaksanakan eduFarm Jeruk Siam.
Kabupaten Luwu Utara merupakan salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang pernah menjadi sentra komoditi jeruk siam.
Pada 1980 sampai tahun 2000, Luwu Utara memiliki luas lahan mencapai 23.500 hektar yang tersebar luas di 2 kecamatan yakni Kecamatan Malangke dan Malangke Barat.
Sekaitan dengan hal tersebut, salah seorang petani dari Desa Waetuo Kecamatan Malangke Barat, Marsing mengatakan bahwa, para petani tertarik untuk mengomoditi jeruk siam karena peluang pendapatannya yang cukup tinggi dan dinilai mampu menjadi penunjang perekonomian.
“Komoditi jeruk siam ini, pertama kali diperkenalkan oleh para petani Bugis dari Belawa Kabupaten Wajo dan terus berkembang karena mendapat minat yang sangat tinggi dari petani, sebab, hasilnya yang sangat menggiurkan,” ucap Marsing.
Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu tokoh masyarakat Luwu Utara, Hadiawan menyampaikan bahwa, cerita manis Jeruk Siam terus dikenang oleh para petani di Malangke.
“Petani jeruk di Malangke hidup sejahtera kala itu. Hasil panen yang cukup besar membuat hasil panen petani menembus pasar Kota Makassar bahkan sampai di kota-kota besar di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah,” ujar Hadiawan.
“Jeruk siam yang dihasilkan petani di Luwu Utara melekat nama dengan brand “Jeruk Malangke”, bahkan sampai saat ini, beberapa mall di Kota Makassar masih menggunakan Brand itu sebagai nama dari jeruk siam yang mereka jual, walaupun jeruk tersebut dihasilkan petani dari Sulawesi Barat maupun dari Sulawesi Tenggara,” tambahnya.
Sementara itu, anak seorang petani jeruk, asal Kecamatan Malangke Barat yang kini menjabat sebagai Ketua IKA Unhas Luwu Utara, Bahtiar Manadjeng menuturkan bahwa, semenjak cerita indah jeruk siam meredup, para petani hanya sekadar melakukan penanaman tanpa mengedepankan kualitas bibit.
“Kesuksesan petani dan cerita indah jeruk siam mulai meredup akhir tahun 90-an hingga awal tahun 2000-an, selain usia tanaman petani yang menua, petani yang melakukan penanaman ulang tidak lagi memperhatikan kualitas bibit, petani tidak lagi menanam bibit bersertifikat dengan mutu yang dijamin pemerintah, mereka menanam bibit asalan tanpa sertifikat, tutur Bahtiar Manadjeng ke awak media Kapitanews.id Via WhatsApp, Senin (02/01/2022).
“Selain bibit yang tidak berkualitas, serangan hama dan penyakit atas tanaman jeruk siam petani semakin kompleks, terutama serangan penyakit busuk batang diplodia dan phytophtora serta penyaki CVPD (citrus vein phloem degeneration) yang disebabkan oleh bakteri Liberobacter asiaticum,” tambahnya.
“Dua penyakit ini, tidak mampu diatasi pemerintah dan petani, akhirnya periode tahun 2002 hingga 2005, Jeruk Siam Malangke dinyatakan punah. Sebuah kisah manis berakhir pahit, petani meradang, banyak petani kehilangan penghasilan. Komoditi pengganti seperti kakao dan jagung tidak mampu memberi penghasilan yang sama dengan hasil dari budidaya jeruk,” lanjut Komisaris Utama PT. R97 ini, yang akrabnya disapa Batti.
Olehnya itu, ia menyatakan bahwa pihaknya (IKA UNHAS Luwu Utara) ajak BALITJESRO Batu Malang untuk melakukan eduFarm Jeruk Siam dataran rendah di Luwu Utara karena animo para petani masih tinggi atas tanaman jenis jeruk.
“Alhamdulillah, mendapat respon yang baik dari balai yang khusus mengurus tanaman jeruk dan buah tropika ini,” ungkap Batti.
Berkat dukungan BALITJESTRO Batu Malang, bibit jeruk sebanyak 1.500 batang sudah tiba di Luwu Utara pada tanggal 28 Desember 2022 yang dikirim langsung dari Jawa Timur melalui pesawat terbang ke Makassar dan sudah didistribusin kepada para petani mitra eduFarm.
“Mewakili IKA Unhas Luwu Utara, kami telah menyerahkan bibit jeruk siam dataran rendah kepada para petani pemilik lahan lokasi eduFarm,” kata Rustam Taslim, salah satu formatur terpilih IKA Unhas Luwu Utara.
Diketahui, Kegiatan eduFarm berupa penanaman akan mulai dilakukan pada awal Januari 2023 yang tersebar pada 3 kecamatan lingkup Luwu Utara yakni, di Kecamatan Malangke Barat, Kecamatan Malangke dan Kecamatan Baebunta. Setiap petani memperoleh 100 hingga 200 batang.
“Semoga eduFarm ini, bisa menjadi kebun pendidikan yang bisa menjadi tempat belajar bersama dalam budidaya jeruk siam yang benar, karena dalam kebun eduFarm ini akan diterapkan Good Agriculture Practice (GAP) yang konsisten,” pungkas Batti.
“Semoga eduFarm ini, bermanfaat bagi petani dan kami berharap pemerintah juga serius menangani komoditi jeruk siam, semoga tahun 2023 PEMDA Lutra mulai mengalokasikan anggaran pengadaan bibit jeruk siam untuk petani dan melakukan pendampingan budidaya dan pasar,” lanjut Alumni Jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Unhas ini.
Selain itu, Kepala Balitjestro Batu Malang, ibu Dr. Fauziah T. Ladja, SP., M.Si menyampaikan bahwa BALITJESRO akan terus melakukan dorongan terhadap keberlangsungan budidaya jeruk di Luwu Utara.
“BALITJESTRO akan terus mendorong komoditi jeruk siam untuk dibudidayakan di seluruh Indonesia, tentu di daerah yang cocok termasuk di Luwu Utara, dan kami akan ikut memberikan pendampingan atas pelaksanaan eduFarm yang diinisiasi oleh IKA UNHAS Luwu Utara,” tegasnya.
