LUWU UTARA, Kapitanews.id – Kelompok Wanita Tani (KWT) melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB) Anggrek Desa Bantimurung Kecamatan Bone-bone Kabupaten Luwu Utara, berhasil memasarkan produknya hingga ke beberapa daerah.

Adapun nama produknya yakni, Kripik India. Sementara wilayah pemasaran produknya di beberapa daerah, mulai dari Kabupaten Luwu Utara, Luwu Timur, Kota Makassar, hingga ke Provinsi Sulawesi Tenggara.

Keberhasilan itu merupakan salah satu capaian dari Program Rural Empowerement Agriculture Development Scalling Up (READSI).

Kripik yang dihasilkan KWT dalam sehari, mencapai 250 bingkisan mulai dari ukuran kecil, sedang, sampai dengan ukuran besar.

Penanggung jawab produksi KUB, Hasmiati mengatakan bahwa produksi yang sampai ke luar daerah tersebut, telah berjalan selama 3 bulan. Pada awal bulan, produk ini hanya dipasarkan dalam wilayah Desa Bantimurung Kecamatan Bone-bone Kabupaten Luwu Utara saja, namun berkat pendampingan yang dilakukan oleh fasilitator desa di wilayah itu, berhasil memikat konsumen hingga ke luar daerah.

“Awalnya, pada bulan pertama kami mencoba memasarkan kripik dari rumah ke rumah dan warung-warung sekitaran Kecamatan Bone-bone sesuai arahan bapak fasilitator desa,” tutur Hasmiati.

“Masuk bulan kedua hasil kerja sama antar pengurus KWT Anggrek dengan fasilitator desa. Alhamdulillah, mulai masuk beberapa permintaan berupa pemesanan dari berbagai daerah, seperti Luwu Timur, Kota Makassar, hingga Provinsi Sulawesi Tenggara,” tambahnya.

Sementara itu, Fasilitator Desa Bantimurung, Taufik Triadi mengatakan bahwa hal itu merupakan keberhasilan bersama dengan para warga yang tergabung dalam KWT sebab adanya antusias yang membuat progres pengembangan produknya begitu pesat.

“Capaian itu adalah hasil jerih payah kelompok wanita tani anggrek di Desa Bantimurung karena adanya antusias yang tinggi diperlihatkan sampai begitu pesat pengembangan pasaran produknya,” ucap Taufik saat ditemui langsung di rumahnya oleh awak media Kapitanews.id, Kamis (10/11/2022).

Kripik India ini, merupakan produk yang berbahan dasar tepung sagu dan terigu, mengingat di daerah itu ketersediaan tepung sagu begitu berlimpah dan mudah untuk didapatkan.

Selain produk Kripik India, ada beberapa produk lainnya yang telah dihasilkan oleh KWT/KUB Anggrek ini, mulai dari Makaroni, Kacang Gulung, Bagea, Dompo Pisang, dan masih banyak lagi produk lokal yang dihasilkan.

KWT juga melakukan pemanfaatan lahan pekarangan rumah dengan menaman komoditi buah dan sayur-sayuran guna memberikan sumbangan pangan untuk dikonsumsi dalam lingkup keluarga, itu juga merupakan upaya penghematan ekonomi keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi sehari-hari.

Hal tersebut, kongkrit dengan penegasan Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo yang mengatakan bahwa upaya meningkatkan pemanfaatan pekarangan rumah sebagai sumber pangan keluarga sekaligus peningkatan ekonomi bagi keluarga.

Hasmiati menyatakan, sangat bersyukur dengan adanya program READSI yang telah memberikan banyak manfaat kepada petani khususnya KWT Anggrek.

“Alhamdulillah semenjak adanya program READSI kami banyak terbantu, kami mendapatkan pelatihan budidaya sayuran, pembuatan pupuk organik, literasi keuangan dan pengolahan produk dari hasil pertanian, sehingga kami sudah bisa membuat beberapa produk dan menambah pendapatan,” pungkasnya.

Diketahui, program READSI merupakan program yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kemiskinan petani melalui kegiatan pemberdayaan dan pemanfaatan sumber daya pedesaan yang meliputi pembangunan pertanian, perbaikan gizi dan kesehatan masyarakat.