Romansa Purba dalam Stanza I La Galigo

I La Galigo, nama seorang tokoh dengan kepribadiannya. Juga adalah judul besar sebuah epos yang tersusun dengan sistematis, diuraikan dengan sastra Bugis pada tatanan tertinggi. Sesungguhnya inilah sebuah mahakarya dari abad kejayaan Tana Luwu. Diuraikan dalam untaian prosa, tentang kisah romansa para dewa dan manusia. Melebur spiritual kedewataan yang bertakhta di puncak kahyangan dengan rohani kedewataan yang bertakhta di dasar pertiwi. Bersenyawa sebagai penopang materil dunia manusia yang menghuni dunia di antara langit dan pertiwi. Atas dasar itulah sehingga I La Galigo disebut pula sebagai kitab sastra suci, yang pembacaannya baik dari tradisi tulisan (lontara) maupun lisan, selalu didahului dengan ritual khusus serta maksud pembacaan itu diawali dengan niat yang sakral pula.

Kitab I La Galigo yang kemudian dikukuhkan oleh UNESCO sebagai Memory of the World, dikatakan pula sebagai salah satu epos terbesar di dunia. Menurut R.A. Kern yang telah membaca lebih dari 20.000 halaman kitab I La Galigo di perpustakaan Berlin, Nederland, dan London. Bahwa jika disingkirkan bagian-bagian yang sama dan sejajar, kitab sastra I La Galigo akan tersisa kurang lebih 7.000 halaman folio. Ini masih lebih tebal dibandingkan dengan mitologi Homerus di Yunani, bahkan jauh lebih besar dibandingkan dengan kitab Ramayana karya Valmiki di India.

Membaca I La Galigo bermula pada bab satu, didapati kehidupan spiritual para dewata yang riuh pada tujuh lapis kahyangan. Berbanding terbalik dengan kehidupan rohani kedewataan yang dingin dan senyap pada tujuh lapis pertiwi. Hingga kedua alam kedewataan itu bersepakat untuk membangun suatu kehidupan di antara keduanya, di mana inti sari kehidupan itu tecipta dari keterpaduan ketinggian langit dan kedalaman pertiwi. Terciptalah dunia dan peradaban manusia, di mana titik awal bermulanya itu bernama: Luwu. Maka I La Galigo tak lain adalah epos kelahiran Luwu, terbit bersama mitos besarnya. Bukan sekadar sebuah legenda belaka, sebagaimana kebanyakan kerajaan di nusantara.

Memaknai I La Galigo pada hari ini, tentunya tidak bisa dengan serta merta beranggapan bahwa orang-orang Luwu adalah manusia pertama yang mendahului Nabi Adam AS. Ia pun tidak dapat dijadikan pembenaran bahwa Luwu adalah paduan kerajaan langit dan pertiwi. Namun, I La Galigo dipahami sebagai estetika spiritual orang-orang terdahulu yang hendak menyatakan bahwa waktu yang berputar mencipta sejarah kehidupan manusia tak lain adalah pergantian demi pergantian siang dan malam belaka. Mengarungi hidup pergantian waktu ini seyogyanya menyeimbangkan antara pikiran dan nurani dengan kesadaran bahwa segala sesuatu di dunia ini senantiasa berpasangan, sebagaimana kebaikan dan keburukan. Tidak ada kebaikan jika tiada keburukan. Namun, kebaikan yang dipersebutkan sebagai kebenaran itu senantiasa memenangkan keburukan. Olehnya itu, salah satu simbol terpenting Datu Luwu dari masa ke masa adalah sebilah tombak bercagak dua bernama Doke Pakka yang tak lain sebagai perlambang keluhuran dua kutub ini. Hingga ketika Kedatuan Luwu ditasbihkan sebagai kerajaan Islam, simbol I La Galigo yang terkandung pada Doke Pakka tetap adanya sebagai kesenyawaan syariat Islam dan adat istiadat menuju kesimbangan kehidupan dunia dan akhirat.

Ketinggian taraf strata bahasa yang menguraikan I La Galigo sebagaimana itu disebut Bicara Dewata (penuturan dewata). Sehingga tidak banyak orang Luwu pada hari ini yang dapat menyimak alur kisah yang terkandung di dalamnya. Namun, seorang putra Luwu yang dikenal baik dalam belantara kesusastraan Indonesia bernama Alvin Shul Vatrick mencoba merambah rimba I La Galigo, atas nama cinta dan bangga terhadap sastra tanah tumpah darah leluhurnya. Hasil perambahannya kemudian dihaturkan dalam buku ini, sesuai kemampuan olah berbahasanya. Demi membumikan kembali I La Galigo khususnya di Tanah Luwu ataupun bahkan pada skala nasional. Ini adalah suatu upaya yang sangat luhur. Sehingga selaku Datu Luwu ke-40 beserta segenap jajaran Dewan Adat 12 dan Adat 9 Kedatuan Luwu, mengapresiasi dengan penghargaan yang setinggi-tingginya. Telah cukup lama I La Galigo diutarakan dengan sebatas wacana, catalog, dan sampul judul belaka. Namun, tidak banyak yang mencoba menceritakan kembali dalam bentuk tulisan yang lugas tanpa mengabaikan nilai pranata di dalamnya. Dalam hal ini, saya menilai Alvin Shul Vatrick cukup berhasil menguraikannya dalam buku ini. Namun, tiada gading yang tak retak. Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, tentunya demikian pula dengan novel ini. Olehnya itu saya mengimbau kepada Alvin untuk mengkaji isi buku ini dengan melakukan perbaikan-perbaikan secara berkelanjutan hingga cetakan berikutnya. Untuk keperluan ini pintu Istana Langkanaѐ selalu terbuka guna berdiskusi dengan praktisi-praktisi I La Galigo di dalamnya.

Pada akhirnya, saya merasa bangga dan berbesar hati atas karya ini. Niat tulus dan semangat yang didasari cinta terhadap Tana Luwu pada diri seorang Alvin Shul Vatrick adalah inspirasi bagi segenap putra-putri Tana Luwu di mana pun berada. Miliki dan banggakanlah sejarah dan budaya serta alam Tana Luwu dengan karya nyata seperti ini, bukan dengan sebatas wacana tak berwujud bagai asap yang sirna oleh angin semilir. Semoga Allah SWT memberkahi kita semua. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin.

Wabillahi Fii Sabililhaq
Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Istana Langkanaѐ, 25 Juni 2021

DATU LUWU XL