LUWU UTARA, Kapitanews.id – Lapangan Sepak Bola di Kecamatan Sabbang Kabupaten Luwu Utara, mengalami kerusakan fisik.

Warga bersama para pemuda menilai, pemerintah kecamatan tidak mampu memegang janjinya.

Sebelumnya, beberapa waktu yang lalu, pasar malam sempat digelar di Kecamatan Sabbang, tepatnya di lapangan tersebut.

Pasar malam itu, berlangsung selama satu bulan lebih. Namun setelah usai, pemerintah kecamatan melakukan pembenahan pada fisik lapangan dengan melakukan penimbunan.

Sementara, warga dengan pemuda mengatakan bahwa, bahan timbunan yang dipergunakan merupakan material yang tidak sesuai sehingga mengakibatkan bertambah parahnya kerusakan pada badan lapangan ini.

“Sebelum terlaksananya pasar malam kemarin, kami warga bersama pemuda sudah menyatakan penolakan adanya hal itu, karena kami sudah memprediksi bahwa akan ada kerusakan yang terjadi di lapangan ketika pasar malam itu berlangsung di lapangan,” ucap Hamka yang merupakan warga Kelurahan Marobo Kecamatan Sabbang, Senin (09/01/2023).

“Namun setelah pemerintah kecamatan melakukan negosiasi dengan para pemuda, diterima karena pemerintah kecamatan mengimingkan anggaran pembenahan lapangan sebanyak 10 juta rupiah yang akan berbentuk timbunan tanah di badan lapangan,” lanjutnya.

“Setelah selesai pasar malam, hampir sebulan kami menunggu janji itu, akhirnya datang juga akan tetapi yang datang itu sertu (kerikil) bukan tanah sesuai apa yang dijanjikan kepada pemuda,” tambah Hamka.

Hamka mewakili suara pemuda, menuturkan harapannya kepada pemerintah kecamatan agar segera melakukan evaluasi pembenahan lapangan.

“Harapannya kami sebagai warga, tentu ingin melihat kenyamanan dan keamanan para pemuda saat bermain bola,” tutur Hamka.

“Olehnya itu, kami meminta pemerintah kecamatan segera melakukan pemerataan lapangan dengan menutupi kerikil itu pakai tanah,” lanjutnya dengan nada tegas.

“Sangat kasihan pemuda yang menggunakan lapangan ini karena semenjak kerikil berhamburan di badan lapangan, yang pemuda gunakan hanya setengah lapangan saja karena sangat berbahaya adanya batu-batu itu,” tutup Hamka.