SILUET EMPAT BELAS SENJA DI FAJAR KELIMA BELAS
Datang di penghujung tahun
Membangun kekaisaran di atas kerajaan bumi
Dengan keotoriteran hukum kitabnya
Memblokade keramaian jadi langkah mati
Mengkhianati kerja keras kerongkongan
Merenggut senyum dari raut lalu ditancapkannya nestapa
Kaumku menyorakkan sayembara
Empat belas senja untuk menemukan fajar ke lima belas
Lewat bertapa
Dalam titahnya yang mencampakkan malam juga siang
Hingga kita hanya bisa berbisik pada keadaan yang pelan-pelang menguji empati
Titah yang juga mengubah langkah jadi ancaman
Lalu kita hanya bisa bertemu lewat kata
Saling cinta lewat jaga
Dikekangnya pula jejak tak berbatas
Maka kita bersua di atas jarak yang sudah lama hadirkan rindu
Tapi
Meski ada langkah yang tertahan
Hasrat yang terpendam
Dalam doa diam-diam aku menemukan Tuhan
(Palu, 25 Maret 2020)
HUJAN TANPA ADVOKAT
Awan mengikat angin dalam mendung
Menggoda gerimis yang kemayu
Membulir liar menghujam kaki langit
Lalu hujan mengucap akad pada tanah
Hujan mengusik rindu tak bersudut
Jatuh berdebam pada hati yang berkerak
Mengukir riwayat nyaris patah
Dalam kubangan tak berlisan
Hujan makin basah
Mengikat rindu yang berserak
Rangkai risalah jadi buket terdakwa
Dan hujan jadi tertuduh tanpa advokat
(Palu, 23 Januari 2020)
PUSARA TAK BERTULANG
Hening seperti malam yang dingin
Asri seperti gelayut angin yang berpusing dari mesin pendingin
Sunyi meski beriring nyayian pipit
Tapi mereka masih di sana
Di antara rak-rak kokoh meski nyaris purba
Hanya bisu berselimut debu sebab jarang disentuh
Menguning diterpa waktu yang entah sampai kapan harus berdiam di barisannya
Lalu siapa yang peduli?
Mereka memang hanya lembaran kertas yang berisi alpabet serta angka tapi mampu memberimu gelar
Mereka memang hanya remah-remah pohon yang dapat remuk dalam genggaman tapi mampu membuatmu disebut cerdas
Apa kau masih tidak peduli?
Internet memang sudah memberimu google, youtube, dan masih banyak lagi tinggal klik lalu salin atau download maka semua selesai
Tapi pernakah kau ada di antara tumpukan buku?
Mencari jawab di tiap lembarnya
Menyeka debu di tiap sampulnya
Menikmati aroma khas bukunya
Bahkan mendengar riang sorakan kertas dari lembar yang kau buka?
Pernahkah kau sampai ke titik itu?
Sepeduli itu?
Mereka diam juga kaku bahkan saat mereka berada di tong sampah membusuk dan hancur
Juga saat tiap lembarannya lepas dan berserak di tepian kelas lalu bergambar telapak sepatu anak sekolah
Kini mereka yang kau sebut perpustakaan layaknya pusara tak bertulang
Lalu di mana nuranimu kau letakkan?
(Palu, April 2017)
MENTARI DAN REMBULAN INDONESIAKU
Aku ingin jadi mentari
Memberi hangat di sudut lembab negeriku
Membayar rindu di kota penghujan
Bersahabat dengan embun di pucuk dedaunan
Memuai bersama angin lalu bersemi bersama bunga
Aku ingin jadi mentari
Membagi kilau di permukaan Kapuas
Mengombak bersama perahu bermesin temple
Duduk di tepian buritan menatap dermaga dihardik ombak
Aku ingin jadi mentari
Menari bersama pasir di puncak Bromo
Menunggangi angin yang menyibak jubah petarung lembah di tengah kebekuan
Aku ingin jadi mentari
Menghunus terik di daratan Sumba yang eksotik
Menyusuri gua, menyaksikan air yang tumpan menerpa bebatuan menguap lalu hilang
Aku ingin jadi rembulan
Yang bermandikan jingga di setiap kali senja datang
Menyapa gemintang di permukaan malam
Ditemani secangkir kopi dan gorengan hangat di balai bambu
Syahdu
Aku ingin jadi rembulan
Yang tenang di lautan Kuta
Berdansa bersama gelombang dengan barisan yang kemayu
Hamparan candi yang semerbak aroma dupa
Perlahan menyibak sunyi dalam gelak tarian kecak
Aku ingin jadi rembulan
Yang jadi saksi di pelataran malam
Menatap kokohnya Baiturrahman
Diserang tsunami diterjang amuknya badai
Namun istikamah hingga kini
Aku Indonesia
Penikmat sepotong surga tanpa butuh visa
(Jakarta, 8 Juni 2018)
HUJAN BERIKUTNYA
Lewat hujan kita pernah berbagi basah
Mengapur luka yang semakin nyeri
Setiap kali petir memukul langit
Kita pernah mendiamkan waktu
Yang sudah berbaik hati menyanyikan hujan di antara bisu
Memburamkan tanya yang terselubung
Rintik sudah jadi gerimis saat kita diam
Bahkan hujan telah menjamah sudut dahan hingga ke akar
Dan kita masih saja diam
Hujan sudah menenggelamkan telapak yang melangkah
Mengerucutkan ujung jari yang selalu kuremas saat kau dekat
Lalu kita tetap saja diam
Jika hujanlah yang tak pernah beri ruang untuk hangat
Yang sejak tadi mengacau tak karuan pada detak
Maka hujan pula yang hadir setial kali pergimu
Tak pernah pasti kapan kembali
Nanti
Ketika hujan datang lagi
Lalu membuat kita tertahan
Kita akan bercerita tentang hujan berikutnya
(Palu, 9 Februari 2020)
Ferial, lahir 5 Oktober 1989 di Palu, Sulawesi Tengah. Berawal dari coretan-coretan di belakang buku pelajaran saat duduk di bangku SMA lalu terangkai jadi gubahan yang disebut puisi yang terus berlangsung hingga kini. Dan beberapa karyanya pernah dimuat di media cetak juga antologi puisi.
