Dari Hasil Bertani, Warga Sumabu Sukses Sekolahkan Anak hingga Sarjana

LUWU, Kapitanews.id — Haris (60) tahun, warga Desa Sumabu, Kecamatan Bajo, Kabupaten Luwu adalah salah satu dari sekian petani yang bisa menyekolahkan anaknya dari hasil bertani.

Sekiatar tahun 1980-an, Haris mulai membuka lahan yang dulunya adalah hutan belantara, Selain membuka lahan, ia juga secara perlahan membeli lahan warga yang tak mampu mengolah lahannya karena keterbatasan sumber air.

banner 336x280

Di Desa Sumabu, salah satu desa yang sumber mata air sangat terbatas, karena tak ada aliran sungai yang mengairi di desa ini, sehingga masyarakat hanya bergantung dari air hujan saja. Masyarakatnya hidup dari hasil berkebun, karena tak ada sawah yang bisa digarap lantaran tidak adanya sumber air yang menjadi pemasok utama untuk kebutuhan tanaman padi.

Hal itu sangat dirasakan oleh Haris. Namun, itu tidak membuatnya patah semangat dan terus berusaha, tiap hari ia mengolah lahannya dan menanam kakao dan beberapa jenis sayuran untuk menunjang kebutuhannya dan keluarganya.

Haris dan istri hidup bersama 11 anaknya, 3 di antaranya sudah ia sekolahkan hingga menyandang gelar sarjana, 3 lainnya masih kuliah, dan selebihnya ada yang di bangku SD, SMP, dan SMA.

“Dari hasil berkebun, alhamdulillah sudah ada anak saya yang sarjana,” imbuh Haris kepada wartawan.

Ia menyekolahkan anaknya dari hasil perkebunan, dari menanam coklat dan sayur-sayuran. Meski begitu Pak Haris tetap merasakan bagaimana pahitnya menjadi seorang petani, dengan kondisi buah kakao yang sampai saat ini masih terserang hama penyakit sehingga hasilnya juga tidak lagi maksimal.

“Kalau dulu hasil dari buah kakao lumayan baik, tapi sekarang sudah tidak lagi karena banyak hama penyakit, sekalipun diberi pestisida hasilnya masih tetap sama,” keluh Pak Haris.

Selain kakao, Pak Haris juga fokus dengan menanam sayur-sayuran, sebelum mengikuti teknik budidaya yang diterapkan oleh pemerintah Desa Sumabu, hasilnya belum maksimal, tapi kali ini bapak Haris mulai budidaya sayur dengan menggunakan metode dari arahan pemerintah Desa.

Mulai dari mengolah lahan dengan cara digemburkan terlebih dahulu karena kondisi atau tekstur tanah yang ada di Desa Sumabu lumayan keras, teknik penanaman dan jarak yang beraturan, perawatan hingga saat ini hasilnya sudah bisa dirasakan.

“Dibandingkan dengan yang dulu, kalau untuk yang sekarang hasilnya tampak jelas, dengan melihat pertumbuhan tanaman dan buah yang dihasilkan sangat beda jauh dari cara kami menanam sebelumnya,” jelas Haris.

Sementara itu, di hari Tani Nasional, Haris berharap ada perhatian pemerintah terkait alat dan infrastruktur di Desa Sumabu sehingga masyarakat luar dapat dengan mudah mengakses untuk menikmati hasil perkebunan masyarakat Desa Sumabu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed