Aksi pertama berlangsung sekira pukul 10.30 di pintu 1 Pabrik Smelter di Desa Karang-Karangan. Jelang jumatan, aksi mahasiswa berhenti. Sekira pukul 14.00 WITA, aksi tersebut kembali berlangsung. Para mahasiswa berhasil menerobos pengamanan aparat gabungan TNI, Polri serta satuan Brimob, dan masuk ke jalan utama pabrik smelter.
Lima orang perwakilan aksi kemudian diizinkan bertemu langsung Jusuf Kalla, dalam area pabrik. Kelimanya, menyampaikan aspirasi warga dihadapan Jusuf Kalla, didampingi Site Manager PT BMS, Zulkarnaen.
Jenderal Lapangan (Jenlap) Muhar didampingi rekannya, Jaun, Hafid dan dua orang lainnya, menyampaikan tuntutan mereka. “Kami meminta perusahaan menaati kesepakatan kompensasi tenaga kerja kepada pihak yang terdampak akibat pembangunan bendung di Bua. Meminta perusahaan mengevaluasi kinerja pimpinan PT BMS, mengingatkan hukum adat di Luwu atas pengrusakan padi, serta tidak melakukan penggusuran lahan warga,” ujar Muhar, diamini ke empat rekannya.
Jusuf Kalla, mendengar semua keluhan dan aspirasi mahasiswa, lima perwakilan tersebut diberikan kesempatan menyampaikan apa maksud dan tujuan serta harapan mereka dan warga yang di Bua yang mereka wakili.
“Kami tidak akan merugikan warga, PT BMS tidak akan pernah mengambil hak-hak warga atau menggusur lahan warga. Lahan yang dipagar dan akan ditimbun tersebut adalah milik perusahaan dan perusahaan mengantongi sertipikat atas lahan yang sudah dibeli sejak tahun 2016,” tegas JK.
Lanjut, mantan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 ini, jika ada warga yang membuktikan ada lahan mereka digunakan oleh BMS, perusahaan siap melakukan ganti rugi, bahkan tiga kali lipat, ganti rugi lahan dan tanaman diatasnya.
Dikesempatan ini, JK juga menyebutkan, penentuan lokasi smelter di Bua, dengan tujuan memberikan pemerataan pembangunan di Sulsel, khususnya di Tana Luwu. Bisa saja kata dia, smelter PT BMS dibangun di Sulawesi Tenggara, dengan pertimbangan dekat dengan bahan baku, atau di Luwu Utara, yang juga memiliki potensi tambang.
“Tidak ada nikel di Luwu termasuk di Bua, lalu kenapa kami membangun smelter di Bua, jawabannya agar terjadi pemerataan pembangunan dan ekonomi masyarakat dan terpenting pabrik Smelter PT BMS dibangun oleh pribumi dan mempekerjakan 70 persen masyarakat sekitar pabrik,” terangnya.
Terkait tudingan arogansi pimpinan PT BMS, Jusuf Kalla, menyebutkan itu adalah sebuah ketegasan oleh seorang pimpinan perusahaan yang berusaha mempertahankan hak perusahaan. “Kita menghargai semua pihak yang menyampaikan aspirasi. Terkait sikap pimpinan PT BMS, itu adalah ketegasan dimana diambil dalam kondisi tertentu untuk mempertahankan hak perusahaan, itu tadi, lahan milik perusahaan yang bersertifikat dan sesuai perintah pimpinan,” ujarnya.
