Legenda Danau Lindu

Cerita Rakyat

Seperti halnya dengan Batara Lattu yang bergelar I La Tiuleng Opunna Luwu yang berkuasa sebagai raja di Aleluwu, Sawerigading sering berlayar mengunjungi kerajaan-kerajaan kerabat untuk mempererat hubungan kekeluargaan. Dalam sebuah pelayarannya mengarungi samudra menaklukkan gelombang dari Tompotikka negeri asal We Datu Sengngeng ibunya, ia berlabuh dari pelabuhan yang satu ke pelabuhan lain dan singgah menyandarkan kapal di sebuah teluk wilayah Kerajaan Pudjananti. La Rumpamegga Raja Pujananti di ketika itu masih keluarga dekat dari orang tua Sawerigading.

Mendengar kabar adanya kapal besar yang berlabuh di pelabuhan, La Rumpamegga dikawal para prajuritnya pun berangkat hendak menyambut tamunya. Sebab biasanya, hanya seorang pembesarlah yang berlayar menggunakan kapal besar. Setelah Sawerigading turun dari kapal menemui La Rumpamegga, ia diajak ke ke istana untuk beristirahat dan tinggal beberapa hari. Dari obrolan itu Sawerigading mendapat kabar tentang adanya dua kerajaan yang masing-masing dipimpin seorang ratu cantik yang arif bijaksana. Dua kerajaan itu tak jauh dari Pujananti. Kerajaan Bangga dipimpin Ratu Wumbulangi terletak di lereng pegunungan serta Kerajaan Sigi dipimpin Ratu Ngilinayo wanita cantik jelita yang sangat disegani dan dicintai oleh rakyatnya.

Merasa kunjungan telah cukup, Sawerigading kemudian melanjutkan pelayarannya ke arah selatan Kerajaan Pujananti. Tak jauh arah tempuh yang dilewatinya, sandarlah kembali kapal tumpangan Sawerigading di sebuah dermaga daerah kekuasaan Kerajaan Bangga. Ratu Wumbulangi menyambut dengan ramah hingga terjalin persahabatan di antara kedua pembesar itu. Beberapa hari di istana Kerajaan Bangga, Sawerigading kembali berlayar hendak mengunjungi Ngilinayo Ratu Sigi.

Kedatangan Sawerigading yang dikawal pasukan dalam jumlah besar menimbulkan keengganan dari penguasa Kerajaan Sigi untuk menyambut baik. Namun, setelah berunding secara baik-baik dengan utusan Ngilinayo. Putra raja dari Luwu itu dipersilakan turun dari kapalnya kemudian diantar memasuki istana dengan pengawalan ketat prajurit kerajaan untuk menemui sang ratu. Sepanjang perjalanan dari pelabuhan menuju istana, Sawerigading penasaran bagaimana raut wajah sosok sang ratu yang tersohor cantik jelita dan begitu disegani rakyatnya. Setibanya di istana kemudian diantar memasuki ruangan yang berkilauan hingga pojok-pojoknya. Duduklah seorang wanita berparas jelita di atas singgasana indah gemerlap, dia adalah Ratu Ngilinayo.

Berlangsunglah dialog di antara mereka, menjalin kekerabatan antara kerajaan mereka. Ratu Kerajaan Sigi mengizinkan Sawerigading untuk menginap beberapa hari di istananya. Berbagai hal mereka diskusikan mulai dari kondisi masyarakat hingga perdagangan. Dari pertemuan demi pertemuan, perbincangan mereka pun kian akrab. Kecantikan paras dan perilaku Ngilinayo menggugah perasaan suka di hati Sawerigading, apalagi melihat pengikutnya yang begitu patuh dan segan akan segala titahnya. Perubahan sikap dari Sawerigading diketahui oleh Ngilinayo, tetapi ia pura-pura tak peduli dan tetap biasa-biasa saja.

Hingga di sebuah kesempatan, Sawerigading menyampaikan perasaan hatinya terhadap Ngilinayo. “Duhai Adinda Ratu yang bijaksana, mutiara indah Sigi. Perkenankan kujadikan Engkau bulan purnama di Aleluwu sehingga dapat kusaksikan cahayamu siang dan malam.”

Mendengar ucapan Sawerigading, Ngilinayo gelisah dan berpikir keras lantaran dirinya belum siap menerima pinangan itu. Setelah diam beberapa lama Ngilinayo pun angkat bicara, “Sungguh mulia maksud Kakanda. Akan tetapi, mendapatkan mutiara yang terindah sungguh tak mudah. Jika Kakanda benar berniat memetik bulan yang purnama ini, terimalah dulu persyaratan Adinda!”

Dengan hati diliputi rasa cinta, Sawerigading pun menjawab. “Katakanlah, duhai Adinda! Gerangan apa persyaratan yang mesti kutunaikan agar hatimu senang?”

Ngilinayo kemudian mengutarakan persyaratannya. “Kudengar kabar seorang pembesar dari negeri Aleluwu yang pandai menyisik ayam, mahir membulang taji, Opu penyabung tak tertandingi. Bagaimana jika ayam Kakanda, La Bakka Cimpolong bertaruh taji dengan ayam kesayanganku La Calabai. Dengan kesepakatan, jika Bakka Cimpolong menang niat Kakanda kutunaikan, bila Calabai menang niat Kakanda tak tertunaikan.”

Sepakatlah keduanya untuk menyabung Bakka Cimpolong dengan Calabai. Petinggi kerajaan pun menyiarkan pengumuman ke seluruh penjuru kampung agar menyaksikan penyabungan tersebut. Sementara para pejabat istana memerintahkan untuk membuat gelanggang sabung ayam. Dalam waktu singkat berkumpullah orang banyak dari berbagai penjuru hendak menyaksikan penyabungan tersebut.

Usai menyepakati penyabungan, Sawerigading pamit ke kapal untuk membawa turun ayamnya. Saat turun dari kapal sambil menggendong Bakka Cimpolong, La Bolong anjing berbulu hitam piaraan Sawerigading ikut turun kemudian lari menyelinap di antara semak-semak lalu menghilang ke dalam hutan. Sawerigading terus saja menuju ke gelanggang sabung ayam yang telah disiapkan. Gemuruh suara orang bersorak tak sabar lagi ingin menyaksikan pertarungan dua ayam yang sama tersohor memiliki kemampuan adu yang luar biasa.

***

Sementara La Bolong terus berlari ke dalam hutan hingga menemukan seekor anoa. Ia pun mengendap-endap kemudian menyergap anoa tersebut. Namun, dengan sigap sang anoa menyadari bahaya yang mengancam hingga dengan terkaget larilah ia dan La Bolong terus saja mengejar. Di sebuah dataran anoa menghilang, La Bolong menyalak dengan marah karena kehilangan mangsa. Suara La Bolong begitu memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya. Hingga seekor belut raksasa yang oleh orang sekitar menyebutnya dengan nama Lindu berada dalam lubang berlumpur merasa terganggu dan keluar mencari siapa yang membuat gaduh di daerah kekuasaannya. Dilihatnya seekor anjing berbulu hitam sedang marah-marahnya, terus saja menyalak dan malah semakin kencang hingga tanah di sekitarnya bergetar. Belut raksasa itu pun marah hingga terjadilah perkelahian sengit di antara keduanya. Karena La Bolong adalah anjing terlatih dan memiliki kesaktian, Lindu pun terdesak sampai ke lubangnya. La Bolong tak berhenti, Lindu merasa harus mempertahankan daerahnya dan kembali memberi perlawanan.

Sementara di gelanggang, Bakka Cimpolong dan Calabai sudah bertarung beberapa hitungan air. Keduanya sama kuat sama tangguh. Tumpah ruah manusia menyaksikan sabungan itu. Sawerigading dan Ngilinayo duduk tenang menyaksikan ayamnya meliuk-liuk meloncat ke sana kemari. Pada sebuah hitungan air, kedua ayam diistirahatkan sejenak. Di sela-sela penyabungan, Sawerigading dan Ngilinayo berbincang-bincang dan menyepakati bahwa apa pun hasil dari sabungan itu mereka akan tetap menjalin kekerabatan sebagai saudara sekalipun kalah menang akan menjadi penentu sebuah hubungan pernikahan mereka.

***

Lindu sang belut raksasa itu terus saja melakukan perlawanan, La Bolong terdesak hingga keluar dari lubang besar tempat tinggal Lindu. Di mulut lubang besar itu keduanya mulai mengeluarkan kesaktian masing-masing hingga tanah pun bergetar hebat dan kilat turun menyambar hingga terasa sampai di gelanggang sabung ayam. Badan keduanya mulai terluka dan darah pun bercucuran menyebabkan mereka kian murka semakin gencar menyerang. Pada akhirnya Lindu kewalahan saat taring La Bolong mencengkeram tubuhnya. Ia menggelepar-gelepar berusaha melepaskan diri menyebabkan tanah terguncang hebat hingga gelanggang sabung ayam pun tak luput dari guncangan. Air meluap dari lubang tempat tinggal belut raksasa itu menjadi banjir bandang sehingga sabungan dihentikan sebelum ada yang menang.

Lama kelamaan tubuh Lindu semakin lemas tak berdaya lalu mati di tempat perkelahian itu. Dari lubangnya terus keluar air bah hingga membentuk sebuah genangan yang kini disebut Danau Lindu. Bekas dari dari diseretnya Lindu oleh La Bolong membentuk sungai yang kini disebut Sungai Gumbasa.

Tak lama berselang keadaan membaik, air bah telah surut. Pertaruhan sabung ayam sepakat dinyatakan seimbang, tak ada kalah dan menang. Sawerigading dan Ngilinayo sepakat untuk melanjutkan hubungan mereka sebagai saudara membangun kekerabatan antara Kerajaan Luwu dengan Kerajaan Sigi.

*****