Mengenal Desa Hono Lebih Dekat

LUWU UTARA, Kapitanews.id — Pukul 15.50 WITA, saya berada di kediaman Kepala Desa Hono Ilham, Desa Padang Balua ke Desa Hono jaraknya sekitar 4 km, dengan durasi waktu sekitar 25 menit.

Seperti orang sedang menunggang kuda, kira-kira begitulah saat melewati jalur Desa Padang Kalua menuju Desa Hono. Melewati 5 jembatan, 2 jembatan gantung dengan panjang kurang lebih 20–30 meter, dan 3 jembatan anak sungai.

banner 336x280

Jalur yang sangat luar biasa ekstrimnya bagi kami yang baru melaluinya, tapi kalau orang di sini yang sudah terbiasa melaluinya menganggap ini ibarat jalan aspal bagi mereka.

Desa Hono terdiri dari empat (4) dusun dengan jumlah 230 KK dari 870 jiwa, masyarakat di Desa Hono sumber penghasilannya adalah berkebun dan bertani coklat, kopi, dan padi. Luas wilayah Desa Hono seluas 21.000 hektar.

Desa Hono juga merupakan satu-satunya desa penghasil kakao terbanyak di Seko, dalan satu (1) KK rata-tara mengelola luas lahan perkebunan sebanyak lima (5) hektar dan itu bisa menghasilkan 1 ton per panen, dalam setahun masyarakat bisa melakukan empat (4) kali panen.

“Masyarakat mulai menanam coklat pada tahun 2000-an dan pada tahun 2018 mulai mengembangkan budidaya kakao hingga saat ini. Sebelumnya masyarakat hanya masa bodoh tidak peduli bagaimana mengolah lahan dengan produktif,” urai Ilham. Senin (26/09/22).

Pada tahun 2016, Kepala Desa Hono Ilham mulai melebur dan mengajak warga terkhusus pemuda untuk melakukan hal-hal yang lebih produktif, terutama dalam mengolah lahan untuk ditanami kakao. Dan Alhamdulillah apa yang dilakukannya membuahkan hasil, mindset pemuda yang dulunya hanya minum-minum, secara perĺahan sudah mulai berubah dan lebih berpikir positif untuk lebih produktif.

Dari percakapan kami, Desa Hono diketahui memiliki flora berupa Anoa, Rusa, Monyet, Ikan Masapi, Kuda, Burung Elang, dll. Sementara fauna di Desa Hono terdapat Kakao, Aren, Pohon Kayu Uru, Pisang, umbi-umbian, pepaya, durian, dll.

Menjelang senja, sembari menikmati kopi hangat yang disajikan Kepala Desa Hono, kami duduk di teras rumah sembari berdiskusi, hingga terbenamnya matahari menutup percakapan kami hari itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *