LUWU, Kapitanews.id – Berbicara tentang isi naskah kitab sastra bugis I La Galigo banyak hal yang tak semestinya dipermasalahkan malah menjadi bahan perdebatan yang tak kunjung selesai. Pada khalayak umum, ketika seseorang berkisah terkail I La Galigo maka tokoh yang paling fenomenal menjadi buah bibir adalah Sawerigading Opunna Ware’. Lelaki tampan yang perkasa nan berkuasa di bawah langit di permukaan bumi. Disegani di tiga dunia yakni Botinglangi (dunia atas), Perettiwi (dunia bawah), Attawareng (dunia tengah). Oleh karena lelaki yang sulit dicari padanannya itu adalah cucu kesayangan dari Datu Patoto sang Maharaja penguasa negeri batara di Botinglangi dan Guru ri Selleng raja diraja di Perettiwi.
Hal yang lebih fenomenal lagi adalah peristiwa ketika Sawerigading jatuh cinta kepada saudara kembarnya yang bernama We Tenriabeng Bissu ri Langi yang sedari mereka kecil disekatkan istana tak dibolehkan bertemu muka dan keberadaan We Tenriabeng sangat dirahasiakan oleh keluarga kerajaan. Bermula dari ucapan sepupunya anak dari We Adiluwu kakak dari We Datu Sengngeng ibunda Sawerigading, Sawerigading pun menyelidiki kebradaan saudaranya dan berkeinginan menikahinya sebab parasnya yang sangat cantik.
Tak ada lagi yang mampu membujuk dan menggoyahkan keteguhan hati Sawerigading untuk menikahi saudaara kembarnya, maka dipertemukanlah keduanya oleh Batara Lattu. Sawerigading berusaha mencari cara agar keinginannya terkabulkan, tetapi We Tenriabeng tetap tak mau melanggar peradatan negeri. Pada akhirnya ditunjukkannyalah seorang perempuan di negeri Cina yang sangat mirip dan bahkan lebih cantik darinya. Negeri Cina inilah yang banyak menimbulkan perdebatan. Ada yang mengatakan Cina yang kemudian menjadi Pammana berada di Tanah Ugi (Tanah Bugis), yang lain beranggapan Cina Tiongkok.
Disebutkan dalam naskah kitab lontara I La Galigo jilid VIII pada halaman 15, tertulis:
Mabbali ada We Bissulolo, “Kujellokang ko waE Pongratu, lisek sinrangeng pada-padaE tunru rupakku semperrek E wekkek tanrEku. SEuwa ronnang kaka baiseng to Rilangiku ri Alecina, to muEwaE sibarek-barek pura rilingE, mEmeng ko siya siparukkuseng lE nariulo ri AlElino. SEuwa mua lE bulo kati muduwai wi. Tettongnga lE ritu kusingraja, tudangnga siya lE kusellEbu, turung rupakku riyala ruddu. I WE Cudai kaka asenna, DaEng Risompa pattellarengna, Punna BolaE ri la TanEtE pappasawekna. Rijajiyanna WE Tenriabang ripatirina La Sattungpugi lE pannyumpareng tampuk Elona Opunna Cina ….”
(Menjawablah We Bissulolo, “Kutunjukkan padamu Pongratu, isi usungan yang sama dengan raut wajahku begitu pun tinggi badanku. Ada wahai Kakakku besan kahyanganku di Alecina, orang yang berjodohan denganmu, memang sudah ditakdirkan berjodoh denganmu kemudian diturunkan di dunia. Jika berdiri aku sama tinggi, bila duduk aku sama gaya, raut wajahkulah yang menjadi perbandingan. I We Cudai namanya wahai Kakakku, Daeng Risompa gelarannya, Punna Bolae ri La Tanete (Si Pemilik Istana di La Tanete) panggilannya anak dari We Tenriabang putrinya La Sattungpugi anak bungsunya Opunna Cina ….”)
Sedikit gambaran sudah mulai tampak mengenai negeri Cina yang dimaksud. Apakah mungkin orang Cina Tiongkok nama panggilannya menggunakan Bahasa Bugis? Punna Bolae ri La Tanete artinya si Pemilik Istana di La Tanete. Kemudian, adakah sebutan daerah/kampung di Cina Tiongkok bernama La Tanete?
Semua keluarga kerajaan dan orang kampung tidak merestui sebab dianggap pemali bagi tanah pantangan bagi langit (nasapa tanah narumpu langi), melanggar hal tersebut akan berakibat malapetaka dan kehancuran bagi negeri. We Tenriabeng menunjukkan I We Cudai Daeng Risompa Punna Bolae ri La Tanete di negeri Cina kepada Sawerigading. Muncul lagi permasalahan baru sebab semua wangkang (perahu) yang sering ditumpangi berlayar oleh La Maddukelleng sudah tua dan meragukan lagi kondisinya. We Tenriabeng sebagai seorang bissu tetap menemukan jalan keluarnya yaitu dengan membuat wangkang dari pohon dewa manurung bernama Welenreng yang berdiri kokoh di Mangkutu.
Sebagai pembanding berikutnya, saya kutip lagi dari naskah yang sama jilid VIII pada bagian akhir halaman 19, tertulis:
“… Amaseyangnga mumuaingek, naiya lalo munawa-nawa somperengngE ri Tana Ugi. NaErEkkuwa wakkaE mua teppajajiyo sompek ri Cina, ujellokang ko waE LawE, aju WElenrEng lE ri Mangkutu tuwo tettongi bulu kamennyang ….”
(“… Kasihanilah aku engkau sadar, engkau pikirkan pelayaranmu ke Tanah Ugi. Jikapun wangkang yang menghalangimu berlayar ke Cina, kutunjukkan engkau wahai Lawe, kayu Welenreng di Mangkutu yang tumbuh berdiri di gunung kemenyan ….”)
