Malaikat Berendam di Pancuran
Lorong-lorong kehidupan berjalan menantiku
Menyelusuri gerak-gerik irama
Berayun angin datang bersama
Mengisyaratkan rahimnya pecah
Tepat dimataku
Benar-benar telah membuka satu-satu
Mengarungi setiap pikiran pemiliknya
Entah jalan dari lembar-lembarnya
Padam oleh makna-maknanya sendiri
Kepada semua kertas-kertas hitam
Kutambatkan belati puisi ranum di bibirmu
Hingga ngengat datang menjemput senja
Biarlah derai-derai masa lalu menjadi hangat
Kembali merendam dan berbenturan waktu
Karena ayat-ayat bercucuran dari langit
Seperti dikejar malaikat
Untuk kita minum dari pancuran yang sama
Selagi hangat
Mampukah merayunya 99 kali
(Majene, 2019)
