PEKERJA PENJAGA TRADISI
Salam cintaku pada lelaki senja
Sang pemahat batu cinta di ujung kota
Bukan maksud kubuka tabir rahasiamu
Agar aku lebih viral dari merawat tradisi
Ada murung yang mendalam mendera
Ingin kubungkam segala resahku
Namun, aku tak mampu membendungnya
Untuk kali ini, kuceritakan sedikit mimpi tentangmu
Kuingin engkau bisa duduk manis di selasar rumahmu
Menikmati secangkir kopi madu buatan istri terkasih
Senyum manismu dalam regukan pertama di bibir gelas
Yang membalut segala pekat
Lelaki senja berkulit lelah
Kulihat engkau pagi itu memikul keping keletihan dijadikan cuan
Engkau cuma mengambil secukup mampu dipikul
Senyummu lebih mekar dari daun yang gugur di retak tanah warisan
(Sumbawa, Januari 2022)
INI TENTANG HARI NANTI DI SUMBAWA
Lewat diskusi kutemui bunga-bunga bertaburan
Berhamburan di antara jalanan yang kupilih
Membagi harum menjalar di setiap pelosok desa
Dua puluh lima menit dari perkotaan ke Desa Ai Puntuk
Lukisan alam menggoda mata
Gunung yang dipenuhi hamparan permadani jagung tampak asri
Pohon-pohon jati menjulang tinggi sajikan panorama hutan pinus
Semua indah di musim basah ketika aroma petrikor tercium
Takjub menjalari sekujur sendi sendi imajinasiku
Di sini kutemukan sumber mata cinta kehidupan yang indah
Alam memahat ribuan tiang-tiang rumah
Diselimuti kumpulan debu-debu
Tawarkan permata kehidupan yang aduhai
Pun harus melewati jalan sunyi
Di sini kubangun peradaban baru
Kusemburkan impian-impian baru pada masyarakat sekitar
Berbenah tentang masa depan
Tidak lagi mencabik batu alam dalam sunyi
Kita akan merawat cinta alam, batuan, tumbuh-tumbuhan
Agar menjadi payung rindang di kehidupan mendatang
Lewat tangan-tangan puisi kita akan memulai kisah baru
Tentang tanah Samawa ini
(Sumbawa, 6 Juli 2022)
HUTAN MADU
Ini namanya hutan madu
Bersama menuju bukit lamona
Ngarai kudaki
Jurang kuterjang
Membelah rimba
Kutemukan sekoloni gundukan hitam menebal lebat
Ia berkilauan ranum bagaikan sajian dewa-dewi
Lalu tebing kupanjat
Kusibak lebah-lebah hitam menetaskan lelehan manisnya
Kureguk ia penuh nikmat
Dan kami pun terkapar dalam manisnya madu itu
(Sumbawa 11 september 2022)
RIMBA KITA
Akan kujaga hutan kataku dalam setiap kebaikan
Agar kelak manis madu milik kita semua
Secangkir cairan manis dari nektar bunga di pohon bonang menggetarkan rasaku
Kulihat kerlap-kerlip hitam bercahaya berterbangan
Biaskan cahaya masuki lorong-lorong pepohonan dan mengintari sarangnya
Lebah-lebah pekerja memutarkan pantatnya yang bunting terbang lepas kembali lagi ke sarang
Membawa tetesan cairan manis bunga bonang
Di atas pohon yang menjulang tinggi di bukit puncak Bantulante
Jejak pemilik rimba beranak pinak
Terpelihara dalam cinta
Semakin hutan terjaga semakin melimpah madu terberi
Rimba kita milik kita
Mari menjaga kata menjaga rasa
Bunga kata menjadi madu kata
Ratu pun hidup bahagia dalam pekarangan nan indah
Manis madu membuai rasa di belahan dadaku
(Sumbawa 13 September 2022)
Sulastri,S.Pd., dikenal dengan nama pena Ule Ceny. Lahir 5 Juli 1976 di Desa Ampang, Kecamatan Empang, Kabupaten Sumbawa (NTB). Guru Matematika di SMAN 3 Sumbawa Besar dari tahun 2005 sampai sekarang. Alumni Universitas Islam Malang jurusan pendidikan Matematika, menekuni sastra dari zaman kuliah sampai sekarang. Aktif berkegiatan di Bengkel Sastra Lontar SMAN 3 Sumbawa, Taman Sastra Dawatmas, Taman Sastra Lawas, Ketua Komunitas Pandre Satera Samawa. Aktif menulis lewat komunitas daring Komunitas Menulis Bersama, Dewan Sastra Jakarta, Pujangga Facebook Indonesia, Sonian, Haiku, Tanka, juga menulis pengembangan puisi lawas sastra Sumbawa.
