KESEDIHAN DI KEPALAKU
Aku sering berpikir
Kenapa kesedihan begitu saja hadir
Bercerita tentang luka tempo hari
Pun nelangsa yang tak henti-henti
Segala berelegi …
Rindu dan benci saling berasumsi
Beberapa ingatan berseteru
Menyaksikan ketidakberdayaan di kepalaku
Kesedihan hanya berujar lewat aksara
Bertaut menguntai satu cerita
Lalu menuliskan dirinya sendiri
Yang mati dalam sebuah puisi
(Sumedang, 2022)
KOPI PAGI
Selamat pagi, kopi
Pahitmu tak perlu diceritakan
Karena itu tak selalu menyenangkan
Selamat pagi, kopi
Darimu aku belajar memahami
Takdir mempunyai jalannya sendiri-sendiri
Selamat pagi, kopi
Menikmatimu semakin candu
Dari secangkir aku jadi banyak tahu
Selamat pagi, kopi!
Adamu selalu mengundang sekumpulan fiksi
Lalu aku berjuang, merangkai puisi
(Sumedang, 2022)
PERTEMUAN KETIKA ITU
Aku bertemu seorang perempuan
Ketika berjalan di lorong itu
Senyumnya dingin
Seperti gemar memeluk gigil
Tetapi cinta, menyala di sepasang matanya
Kami terlihat akrab
Berbincang begitu dekat
Tak henti-henti kata dicipta; merekahkan doa
Mencari Tuhan berada
Di ujung lorong, perempuan itu menjauh
Mataku tak lagi menemukan dirinya
Kemudian aku, sibuk merias harapan
Pada sebuah penantian
Yang sebenarnya tak ada
(Sumedang, 2022)
KETIKA HUJAN DI SORE HATI
Kadang-kadang aku tak sepaham
Hujan datang begitu mencekam
Bagaimana tidak
Ia turun tajam menyeruak, menghunus kenangan
Rintikkan serenada kerinduan
Ia hanya mencipta larik kesedihan
Berisi sebuah ratap tentang harap
Yang selalu terabaikan
Ah! Hujan sore ini
Membuatku ingin menepi
Mencari teduh lalu sembunyi
Namun sayang, niatku terhalang
Setelah sebait puisi tertinggal
Basah, di antara daun-daun yang tanggal
Lalu aku menikmati
Sebagai hujan paling sunyi
(Sumedang, 2022)
MENIKMATI TAKDIR
Kularutkan satu cerita
Di secangkir kopi tanpa gula
Sehitam malam, sekental kenangan
Diiringi langgam tentang kehilangan
Biar sepi datang menyambangi
Aku tidak peduli!
Biarlah begitu …
Mungkin sebaiknya seperti itu
Asyik bercanda dengan kesedihan
Asap kopi melindap kedinginan
Sisakan endapan ampas
Ikhlas yang tak berbalas
Aku pun lebih tabah
Pahit bukanlah masalah
Di antara apa yang terjadi
Telah kunikmati takdir yang Dia beri
(Sumedang, 2022)
PENYAIR YANG SIBUK SENDIRI
Seorang penyair menulis puisi
Terciptalah sekumpulan diksi
Bola matanya menyala, memandangi aksara
Alih-alih sibuk sendiri
Sibuk memberinya arti
Lalu tenggelamlah dia
Di samudra kata-kata
Tubuhnya mengapung
O, puisi … penyair mati
(Sumedang, 2022)
KAMU, AKU …
Sore itu, aku menyaksikan kamu pertama kalinya
Tersiksa oleh cinta …
Dari luka, juga rasa sakit yang tidak biasa
Katamu, “Bukankah ini permainan Tuhan?”
Membagikan sepotong perasaan
Membuatmu suram dan berkesedihan
Aku tak begitu peduli, sia-sia saja mencari arti
Sebab, aku masih di dalam cermin ini
Sedang asyik bermain gerimis, di mataku sendiri
(Sumedang, 2022)
Itha Abimanyu, adalah nama pena dari perempuan yang berdarah Sunda lahir di kota Sumedang, bernama lengkap Ita Susanti Abimanyu. Gemar menulis dan berharap di setiap tulisannya ada manfaat yang bisa diambil oleh pembaca. Penulis bisa dihubungi di kontak WhatsApp di nomor 081224411126, email: abimanyu210418@gmail.com
