Sajak Opera Sunyi

PERTEMUAN ABADI

Larut aku di kedalaman-Mu
Pada malam sunyi yang terang
Meski terbenam rindu
Dan tenggelam dalam air mata Kepayang aku
Semenjak embun luruh
Dan kabut menadah malam

Gemintang rengkuh menatap
Mentari telah lambai menjauh
Rembulan syahdu bermata
Lalu aku menjadi kian semakin entah

Hidup mati hanyalah kisah
Kelahiran sebagai awal perjalanan
Memandang kita yang telanjang
Sedang jika tiba sebuah perpisahan
Ia adalah pertemuan yang abadi

(Makassar, 21 Juni 2022)

 

 

OPERA SUNYI

Puisi adalah opera sunyi yang senyap dan sayap. Gugusan rindu yang terbang bersarang di kepala dan diam di bibirku. Sebuah hunian kecil ternyaman untuk aku bicara dalam khayal dalam sepi dalam hati yang sedang api.

Kenangan tentang senja, pelangi, laut, gerimis, dan segala hal yang semerbak dalam lamunan. Menjadi sugesti tumbuhnya harapan, semangat jelajahi masa depan, dan kasmaran kepada duka termanis.

Sebab puisi menjelma kuntum-kuntum asa di atas kata, air mata, dan semesta. Opera sunyi yang mampu menggubah waktu mewujud napas dan nadiku. Yang bahkan getarnya jauh lebih debar dari sekadar jatuh cinta.

(Makassar, 31 Juli 2022)

 

 

KEPADA PUISI

Duhai puisi
teruslah berkata-kata
tetaplah mengudara
meski masa berdarah-darah
dan bumi tak lagi bersuara
di sepanjang jagat raya

Sebab engkau dan aku
adalah sepasang cinta
cinta yang mewaktu
cinta yang takkan pernah mengusaikan rindu
meski seribu prahara melanda dunia
meski caci maki membelati benci

(Makassar, 23 September 2022)

 

 

Srie Astuty Asdi, penyair perempuan berdarah Gorontalo yang lahir di Makassar, 06 Januari. Alumni UNM Makassar, angkatan 1992. Penulis buku Kidung Asmaraloka dan Sehening Doa, karya-karyanya juga kerap termuat di media daring dan puluhan buku antologi bersama, baik dalam lingkup grup sastra atau komunitas maupun tingkat nasional, ASEAN, dan beberapa tingkat internasional.