Sajak-Sajak Abadi Amelyasin

Puisi

PARU-PARU DUNIAKU

Di sudut hempasan pohon mangrove
Kemarau diam
Merangkai bayang kerinduan perlahan tumbang
Di mana indahnya paru-paru duniaku
Yang kini luluh lantak
Dari tangan-tangan terampil tak bermoral

banner 336x280

Bagaimana jadinya
Jika rindangnya paru-paru duniaku terhempas
Dilibas mesin-mesin hitam baja
Membunuh sejuknya udara
Menggunduli kaki gunung pegunungan

Jangan kalian sisakan hamparan tandus
Udara tak sehat terembus
Pada mereka generasi penerus

Tolong!
Jaga paru-paru duniaku

 

 

BERSAMA SENJA

Jingga aku selalu merindumu
Mengusung denyut waktu
Pada bumantara di goresan senja berbingkai kelam
Dalam atma kusatukan senja
Dibidik lelah bersama asmaraloka

Senja …
Alunan syahdumu menghunjam daksa
Berselaras dalam rajutan kerling mata
Meninggalkan akara semu
Dan di sini tertinggal dalam shyam
Sungguh anca tak terlukis dengan diam

Cukuplah senja menjadi saksi
Pada nabastala yang semakin gelap

Sekejap …
Menoreh tabir cahaya buana
Dan perlahan beranjak pergi
Mengubur luka pada sarayu
Sebab senja yang kian memudar

 

 

HAMPA

Dan ketika aku tak lagi mampu berbicara
Hanya sorot mataku yang memberi sinar kata
Aku berharap kamu mengerti
Apa yang aku rasakan saat ini
Dan ketika kakiku tak lagi bisa melangkah
Aku berharap kau akan menghampiri
Meraih jemariku
Menemaniku disaat sepi

Aku yang terbelenggu kehampaan
Hanya mampu tersenyum tanpa kau tahu
Dan kutorehkan pena hitamku
Di atas lembaran lusuh
Agar bisa kau baca
Agar bisa kau pahami
Karena perlahan aku akan pergi

 

 

KETIKA AKU SEMAKIN TUA

Waktu merangkak begitu cepatnya
Tanpa sedetik pun tersadari
Ruh bergelayut manja di tubuh
Detik per detik semakin rapuh
Melapuk mengikuti alur berkurangnya umur
Sedikit terlupa oleh deru denyut nadi
Yang terus melaju dan berdegup kencang

Wajah manis dengan poles lipstik merah merona
Kini semakin pudar, hanya tersisa potret remaja manja
Pada lekuk yang semakin renta

Perlahan bulir embun menyemai dedaunan
Agar kembali ranum dan segar
Seperti langkah tua ini
Tersiram air kesucian
Untuk bersujud, memohon kekuatan
Dalam remang lentera yang perlahan akan padam

 

 

CINTA ABADI

Sunset in the arms of the night
between drizzle rain
voice echoing strains of longing
behind the silence of the night
bundle of longing
the eternal love
spread fragrance rippled flavor
never changed despite the storm hit

Matahari di pelukan malam
Di sela-sela gerimis
Suara hujan menggema alunan kerinduan
Di balik keheningan malam
Buntalan kerinduan
Cinta abadi
Menebar aroma riak rasa
Tak pernah berubah meski badai melanda

(to: Almarhum Ayah dan Mama)

 

 

Amelyasin, nama lengkap Amalia Nailoe Rahmah, S.Pd., putri ketiga dari Ustad KH.M Yasin Suhaimie (Almarhum) dan Ibu Masrifah (Almarhumah) lahir di Malang Jatim, 8 Desember 1968, menikah dengan Andi Ahmad Yani (Belawa-Wajo). Menyelesaikan pendidikan SD di Kota Malang, SMP dan SMA di Madrasah Mu’allimat Muhammadiyah Yogyakarta, kemudian melanjutkan kuliah D3 jurusan Da’wah di IDIF Jakarta dan PGSD D2 – S1 di Kota Balikpapan. Penulis sehari-hari bertugas di SDN 020 Balikpapan Utara. Mulai menulis tahun 1983 di bangku SMP dan pernah mengirim di koran Yogyakarta, Majalah Kuntum dan Majalah Ananda. Penulis sudah menerbitkan buku tunggal kumpulan puisi “CINTA DALAM DAKSAKU” “ILUSI RINDU” dan 70 buku antologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *