Tingkat Kematian 13 Persen! Apakah Hantavirus Bakal Separah Wabah Virus Corona?

NASIONAL, Kapitanews.com – Ancaman virus mematikan kembali menyita perhatian publik internasional usai wabah Hantavirus varian Andes merebak di kapal pesiar MV Hondius asal Argentina yang memakan tiga korban jiwa.

Terkait insiden global tersebut, ahli epidemiologi penyakit menular dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Maria van Kerkhove, menegaskan bahwa pola penularan virus ini menuntut kedekatan fisik yang sangat erat antarmanusia.

“Ini bukan Covid, ini bukan influenza, cara penyebarannya sangat, sangat berbeda,” ujar Maria dalam sebuah konferensi pers, seperti dikutip dari BBC.

Hal ini senada dengan pernyataan Direktur Jenderal WHO, Tedros Ghebreyesus, yang menilai risiko penyakit ini terhadap kesehatan masyarakat secara global masih tergolong rendah.

Merespons situasi darurat di luar negeri tersebut, Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin, bergerak cepat untuk melakukan langkah antisipasi masuknya virus ke Tanah Air pada Kamis (07/05/2026).

“Kami sudah koordinasi dengan WHO. Kami minta guidance untuk bisa lakukan skriningnya, tetapi yang hasil masukannya kami terima memang itu masih terkonsentrasi di kapal itu, jadi belum nyebar ke mana-mana,” kata Budi di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan.

Meski demikian, Budi menyadari potensi bahaya patogen tersebut bagi masyarakat Indonesia.

Kekhawatiran pemerintah sangat beralasan mengingat hantavirus sejatinya sudah lama beredar secara diam-diam di nusantara.

Kementerian Kesehatan mencatat bahwa terdapat 23 kasus positif dari 251 suspek yang diperiksa selama periode tahun 2024 hingga awal 2026.

Sebanyak tiga orang pasien dilaporkan meninggal dunia, membuat tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) virus ini menyentuh angka 13 persen.

Virus ini didominasi oleh galur Seoul virus yang menular melalui partikel debu dari kotoran dan urine tikus rumah di lingkungan bersanitasi buruk.

Tingginya angka fatalitas ini seketika memicu desakan dari jajaran legislatif. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, secara khusus menyoroti celah masuknya patogen dari luar negeri pada Jumat (08/05/2026).

“Pengawasan ketat di pintu-pintu masuk wilayah Indonesia harus dilakukan. Baik di bandara dan pelabuhan, bahkan pelabuhan di jalur-jalur tikus. Ini sebagai langkah pencegahan,” ujar Yahya mengingatkan pemerintah, dikutip dari Kompas.

Dorongan senada juga disampaikan oleh Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani. Melalui keterangannya pada Jumat (09/05/2026), politikus PKS tersebut meminta pemerintah agar tidak meremehkan jumlah kasus yang tampak minim di permukaan.

“Walaupun jumlah kasusnya belum besar, tingkat fatalitas yang mencapai 13 persen tidak boleh dianggap ringan. Pemerintah harus bergerak cepat memperkuat deteksi dini, surveillance, dan edukasi kesehatan masyarakat,” tegas Netty.

Ia menekankan bahwa pemberantasan sarang tikus dan sanitasi merupakan kunci mitigasi utama.

“Ini menjadi alarm penting bahwa kesehatan masyarakat tidak bisa dipisahkan dari kualitas lingkungan. Pencegahan harus dimulai dari pengendalian faktor risiko di masyarakat,” tutupnya memberikan evaluasi.