Turun Temurun, Nenek Dinadiu Penganyam Tradisional dari Seko

LUWU UTARA, Kapitanews.id — Senin 12 Septermber 2022, hari pertama saya berada di Seko. Salah satu kecamatan di Kabupaten Luwu Utara yang berada di sebelah barat. Jarak tempuh dari Kota Masamba — Seko sekitar 15 menit jika menggunakan jalur transportasi udara, sementara untuk transportasi darat biasanya menggunakan kendaraan roda dua melalui jalur sepanjang 120 kilometer.

Pada pukul 09.00 Wita saya diajak Bapak Marten Kepala Dusun Parahaleang Barat mengelilingi kampung dan mendatangi tempat-tempat yang sampai saat ini menggambarkan karakteristik dan ciri khas masyarakat Seko khususnya di Dusun Parahaleang, Desa Marante.

banner 336x280

Tak jauh dari rumah kepala dusun, kami menemui Nenek Dinadiu, perempuan tua yang umurnya kira-kira sudah mencapai 80 tahun. Namun, ia memiliki keahlian khusus yang tak semua orang di desa ini dapat melakukannya.

Nenek Dinadiu adalah salah satu warga Dusun Parahaleang yang bekerja sebagai seorang pengrajin tikar anyaman. Kemampuan ini ia dapatkan secara turun temurun dan digelutinya sejak kecil hingga sekarang.

Saat kami berkunjung di kediamannya, ia sementara menganyam. Kami pun menghampirinya dan berbincang tentang keterampilan yang ia miliki sejak kecil itu.

Tikar yang dibuatnya terbuat dari daun pandan atau masyarakat lokal menyebutnya dengan sebutan daun annase, bahannya hanya dapat ditemukan di hutan karena ukurannya sekitar 1,5 sampai 2 meter, sementara jarak dari perkampungan dan hutan cukup jauh.

Seko yang kaya dengan sumber daya alamnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat bukan hanya dari segi sumber kehidupan, tapi mampu diolah dan menghasilkan nilai ekonomis. Sampai saat ini masyarakat masih tetap menjaga sumber itu untuk keberlangsungan hidup mereka.

Pembuatan tikar anyaman yang dilakukan oleh Nenek Dinadiu, pertama-tama daun pandan yang sudah diambil di hutan, akan dikeringkan terlebih dahulu dengan cara dijemur selama 3 atau 4 hari, ini dilakukan agar daunnya mudah dibentuk dan tidak mudah rusak saat dilakuka proses penganyaman.

Jika sudah sudah dikeringkan, proses anyamannya pun dilakukan secara manual. Nenek Dinadiu yang sudah mahir dalam bidang ini terlihat tak ada kesulitan saat menganyam, meski demikian ia mengakui bahwa pada proses awal pembentukan pola ia juga mengalami kesulitan.

“Kesulitannya ada di awal memulai, karena kita bentuk pola dan ini yang paling mendasar, itu saja yang sulit,” kata Nenek Dinadiu sambil menganyam.

Sangat menarik, di usianya yang sudah tua itu masih memiliki kelincahan saat menganyam, dengan bantuan kaki saat membentuk pola. Kelihatan memang sangat sulit dan saya yakin tak semua orang bisa melakukannya, hanya dengan ketekunan dan konsentrasi tinggi yang bisa dan tentu dibutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan.

Dalam proses menganyam yang dilakukan nenek Dinadiu mampu menghasilkan dua tikar dalam sehari. Sementara satu tikar biasanya dijual dengan harga Rp50.000,- tergantung dari ukuran dan pesanan konsumen tikar anyaman tradisional ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *