Sajak-Sajak Kematian Yusuf Gerhana

Karya Yusuf Gerhana

 

 

Seni Itu Bebas

Biarkan penyair menuliskan syair-syairnya

Biarkan para pemain gitar memetik senar gitarnya

Biarkan para pelukis menggoreskan pena mereka

Nikmati keindahan dan anugerah yang telah diberikan

Jangan disia-siakan

Diam adalah bahasa estetika

(Luwu, 2020)

 

 

Perjalanan Kematian

Aku mati sebagai mineral, dan menjelma tumbuhan
Aku mati sebagai tumbuhan, dan menjelma hewan
Aku mati sebagai hewan, dan menjelma manusia
Lalu kenapa aku harus takut berakhir pada kematian?
Maut tak pernah mengurangi sesuatu dariku

Sekali lagi! Aku masih harus mati sebagai manusia dan lahir di alam malaikat.
Aku harus mati lagi karena “Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya.”
Aku mati sebagai mineral, setelah itu aku masih harus mati dan menjelma sesuatu yang bisa kupahami

Ah, biarkanlah diriku lenyap memasuki kekosongan, kesunyian Karena dalam kesunyian itulah terdengar suara
“Hanya kepada-Nyalah segala sesuatu kembali.”

Kisah evolusi kehidupan manusia, sejak diciptakan sebagai raga “mati” (mineral) melewati (kepemilikan jiwa) tumbuhan dan hewan, menjadi manusia setelah mendapatkan tiupan ruh-Nya, lalu naik ke tingkatan malaikat, meninggi terus hingga sampai kembali kepada-Nya.

 

 

Kematian adalah Kehidupan yang Abadi

Kita datang kemudian pergi entah siapa yang meninggalkan dan siapa yang ditinggalkan
Luka itu pasti ada perasaan yang tak karuan dan semakin gelisah menafsirkan simbol-simbol yang kau tampakkan
Senyum dan tawamu, tutur kata, dan perhatianmu itu membuat akal dan hati ini hanya tertuju padamu
Tapi seketika kurenungi bahwa alam ini hanyalah kehampaan, alam ini tak abadi, alam ini hanyalah ilusi. Kenyataan ini hanya akan menjadi konsep dan kematian adalah kehidupan yang abadi

(Luwu, 2020)

 

 

Yusuf Gerhana, (lahir 31 Agustus 1992 di Desa Lampuara, Kec. Ponrang Selatan, Kab. Luwu). Seorang anak petani yang harus putus sekolah selama 2 tahun usai menyelesaikan pendidikannya di bangku SD pada tahun 2006 karena persoalan biaya, ia menjalani hidupnya selama putus sekolah dengan bekerja dan menabung untuk melanjutkan sekolahnya hingga di perguruan tinggi. Setelah menyelesaikan studinya, ia kemudian bergelut di dunia seni dan literasi, kini ia aktif melukis dan menulis, sebagai seorang pencerita dan penggambar, ia sudah menerbitkan satu buku tunggal yang berjudul Jalan Setapak. Di lain sisi kehidupannya ia juga penikmat kesenian dan pemerhati budaya.