Terbang Burung
Sudah sampai di mana aku
Terhenyak di padang pasir uslah
Haus tiada tara bercucuran peluh
Rasa gelap pandangan kubuka dengan bashirah
Bumi dan langit kusisih dengan bismillah
Berdeburan angin beruap panas
Di ketinggian gunung hauqalah bau harum
kembang alkausar semerbak
Kupegangi erat jazim dalam dadaku
Kuiringi ke mana terbang hinggap kupu-kupu
Rasa kemalumaluan kaki melangkah
di muka pintu : Sempurnakan syahadatmu
Ruhmu sebenarnya burung yang terbang
yang mengembara ke benua asma-Nya
Beri makan dengan aqa idul iman supaya sempurna
bersujud ke arasy-Nya
Tubuhmu sangkarnya yang harus dibersihi
dengan munazzatun ‘an kulli naqshin wa maa khahara
bil baal supaya sempurna sajadah-Nya
Jangan sungkan masuklah
Beradab dengan selawat
Nyalai kamarnya dengan makrifatullah
Bukai jendelanya dengan nuruttajalli
Sesungguhnyalah: Laisa kamisylihi syai’un
Setelah itu bertasbihlah
“ Jika aku belum bermusyahadah
jangan Engkau tutup pintu ka’bah “
(Banjarbaru, 2004)
